Jumat, 23 September 2016

Tugas 1 Kewirausahaan

Tugas 1 Kewirausahaan

1.  Berikut akan dijelaskan pengertian dari wirausaha atau saat ini dikenal dengan sebutan entrepreneur.
Wirausaha atau entrepreneur yang berasal dari kata bahasa Perancis entreprendre yang berarti melakukan atau mencoba sebuah kemampuan yang di dalamnya termasuk dalam artian ‘usaha’, aktivitas, aksi, tindakan dan lain sebagainya untuk menyelesaikan suatu tugas. Arti atau makna dari wirausaha yang diketahui sekarang ini diawali oleh pemikiran dari studi yang dilakukan oleh para ekonom terkemuka pada abad ke 18 dan ke 19 (Frinces, 2009).
Asal kata wirausaha dalam bahasa Indonesia merupakan gabungan dari kata “wira” yang artinya gagah berani dan perkasa, serta dari kata “usaha”, sehingga secara harfiah wirausahawan diartikan sebagai orang yang gagah berani atau perkasa dalam berusaha (Riyanti, 2003).
Priyono dan Soerata (2005), menyimpulkan bahwa wirausahawan berarti orang yang berjuang dengan gagah di atas kemampuan sendiri, berani, juga luhur dan pantas diteladani dalam bidang usaha.  Josseph C. Schumpeter juga menyatakan bahwa seorang wirausaha adalah orang yang mampu menghancurkan keseimbangan pasar yang baru dan mengambil keuntungan-keuntungan atas perubahan-perubahan tersebut.
Drucker (1985) mengartikan kewirausahaan sebagai semangat, kemampuan, sikap dan perilaku individu dalam menangani usaha (kegiatan) yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Hisrich dan Brush (dalam Winardi, 2003) menyatakan bahwa kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan jalan mengorbankan waktu dan upaya yang diperlukan untuk menanggung resiko finansial, psikologikal serta sosial dan menerima hasil-hasil berupa imbalan moneter dan kepuasan pribadi sebagai dampak dari kegiatan tersebut.
Berdasarkan definisi yang disebutkan di atas, maka dapat diketahui bahwa wirausaha adalah pribadi yang kreatif, dinamis dan inovatif, berkomitmen tinggi dan berani mengambil berbagai jenis risiko, serta menghadapi semua tantangan yang tidak dapat diprediksi atau diramalkan sebelumnya untuk menjalankan usaha sendiri demi mencapai sukses.

2.        Berikut karakteristik yang dimiliki oleh wirausahwan atau entrepreneur.
Priyono dan Soerata (2005), mengatakan bahwa wirausahawan mempunyai sifat-sifat kewirausahaan seperti keberanian mengambil resiko, keutamaan dan keteladanan dalam menangani usaha dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri.
Bygrave (dalam Ifham, 2002) mengemukakan beberapa karakteristik seorang disebut wirausahawan, yaitu:
a.    Mimpi (dreams), yakni memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut.
b.      Pelaku (doers), yakni melaksanakan secepat mungkin.
c.    Dedikasi (dedication), yakni berdedikasi total, tidak kenal lelah.
d.   Ketegasan (decisiveness), yakni tidak menangguhkan waktu dan membuat keputusan dengan cepat.
e.    Ketetapan hati (determination), yakni komitmen total, juga pantang menyerah.
f.     Kesetiaan (devotion), yakni mencintai apa yang dikerjakan.
g.    Terperinci (details), yakni menguasai rincian yang bersifat kritis.
h.    Nasib (destiny), yakni bertanggung jawab atas nasib sendiri yang hendak dicapainya.
i.      Uang (dollars), yakni kaya bukan motivator utama, uang lebih berarti sebagai ukuran sukses.
j.      Distribusi (distributif), yakni mendistribusikan kepemilikan usahanya kepada karyawan kunci yang merupakan faktor penting bagi kesuksesan usahanya.

Sementara menurut Z.Heflin Frinces (2004 dan 2008), karakteristik yang digambarkan dari seorang wirausaha sekaligus merupakan elemen penting dari kualitas diri seorang wirausaha, serta memberikan gambaran yang cukup jelas bahwa seorang wirausaha berbeda dibanding dengan kualitas lain yang bukan seorang wirausaha.  Karakteristik seorang wirausaha tersebut menurut Z.Heflin Frinces (2004 dan 2008) antara lain:
a.     Kreatif.
b.    Inovatif.
c.     Berani mengambil risiko.
d.    Mau melakukan perubahan,
e.     Cekatan.
f.     Berproduksi secara efisien, efektif dan produktif.
g.    Cepat dan tepat dalam membuat keputusan dan melakukan tindakan.
h.    Kemampuan menghitung secara cepat dan tepat kemungkinan yang menguntungkan terhadap akan dieksploitasinya potensi, sumber daya dan peluang yang ada.

3.   Menurut saya hubungan jurusan Teknik Industri dengan mempelajari kewirausahaan yakni dikarenakan Teknik Industri mencakup bidang teknik dan ilmu yang luas seperti bidang desain, perbaikan dan pemasangan dari sistem integral yang terdiri dari manusia, bahan- bahan, informasi, peralatan dan energi. Melalui teknik yang luas dan tidak terfokus pada wilayah spesifik tersebut serta bekal materi-materi perkuliahaan dalam merancang industri termasuk dalam mengaturnya, maka dapat digunakan untuk memulai bisnis sebagai wirausahaan dan tidak hanya mengenai manufaktur tapi tetap menggunakan prinsip yang sama. Perlu diketahui, adanya materi kewirausahaan sangat membantu lulusan Teknik Industri serta membentuk pemikiran baru bahwa lulusan Teknik Industri tidak selamanya mengharapkan pekerjaan dari suatu perusahaan manufaktur atau jasa, tetapi berpotensi dalam membuka dan mengembangkan usaha atau bisnis sendiri sehingga menciptakan lapangan kerja baru bagi lingkungannya.
Mahasiswa Teknik Industri juga harus mengetahui suatu proses untuk memperbaiki performansi keseluruhan dari sistem yang dapat diukur dari ukuran-ukuran ekonomi, pencapaian kualitas, dampak  terhadap lingkungan serta manfaat bagi kehidupan manusia sehingga sistem tersebut dapat berjalan dengan produktif, efektif, dan efesien. Adanya potensi entrepreneurship pada mahasiswa Teknik Industri harus di dukung oleh materi kewirausahaan serta kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar untuk mencari setiap peluang menuju sukses, kreativitas untuk memikirkan sesuatu yang baru, dan juga inovasi-inovasi baru. Materi kewirausahaan membantu mahasiswa Teknik Industri mempelajari bahwa seseorang untuk menjadi wirausahawan (entrepreneur) harus mampu menciptakan bisnis baru dengan mau mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi berbagai peluang penting untuk menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mengoptimalisasikan sumber daya tersebut.


Sumber:
Drucker, P.F. 1985. Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. Heinneman: London.
Ifham, A. 2002. Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Kewirausahaan Pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi No. 02. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Priyono, S. & Soerata, M. 2005. Kiat Sukses Wirausaha. Yogyakarta: Palem.
Riyanti, Benedicta Prihatin Dwi. 2003. Kewirausahaan Dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian. Jakarta: Grasindo.
Winardi, J. 2003. Entrepreneur & Entrepreneurship. Jakarta: Prenada Media.
Z. Heflin Frinces. Juni 2009. Globalisasi: Respons Terhadap Krisis Ekonomi Global. Yogyakarta: Mida Pustaka
…………………. Januari 2009. Kepemimpinan Berbasis Kewirausahaan. Yogyakarta: Mida Pustaka.
…………………. Novermber 2008. Manajemen Reformasi Birokrasi. Yogyakarta: Mida Pustaka.
…………………. Agustus 2007. Strategi: Konsepsi Memenangkan Perang Bisnis. Yogyakarta: Mida Pustaka.
…………………. November 2006. Manajemen Stratejik: Resep Daya Saing dan Unggul, Yogyakarta: Mida Pustaka.
…………………. 2004. Kewirausahaan dan Inovasi Bisnis. Yogyakarta: Darussalam.

Nama : Arif Junisman Mendrofa
NPM : 314 13 323
Kelas : 4ID06

Kamis, 30 Juni 2016

Pengetahuan Lingkungan Part 3

MINUMAN TEH SERBUK DI PT NESTLÈ INDONESIA



1.    Proses Produksi
Minuman teh serbuk instan diproduksi dalam tiga tahapan yaitu pembuatan premix, proses pencampuran kering dan proses pengemasan. Pembuatan premix dan proses pencampuran bahan baku dicampur dengan menggunakan mixer pada waktu dan kecepatan tertentu hingga produk tercampur rata. Terdapat dua mekanisme proses pencampuran yang terjadi, yaitu convective mixing dan shear mixing. Convective mixing terjadi karena adanya agitasi ribbon sedangkan shear mixing diinduksi oleh perubahan momentum antara partikel-partikel serbuk yang memiliki perbedaan kecepatan. Perbedaan kecepatan terjadi di sekitar perputaran impeler dan dinding alat mixer
Tahap produksi yang pertama yaitu pembuatan premix dengan menggunakan ribbon mixer berkapasitas 100L. Tujuan pembuatan premix adalah untuk memperoleh homogenitas dari bahan baku minor. Tahapan proses pembuatan premix yaitu seluruh bahan baku minor seperti asam sitrat, serbuk ekstrak teh, gum arab, serbuk flavor lemon, dan vitamin C serta sebagian kecil gula pasir ditimbang dan dimasukkan ke dalam mixer. Premix tersebut dicampur dengan kecepatan 60 rpm selama 7 menit. Premix dibuat sekaligus untuk empat batch. Pembuatan premix secara sekaligus tersebut akan memengaruhi homogenitas produk akhir karena jika dari premix sudah tidak homogen maka sulit untuk memperoleh produk akhir yang homogen. 
Tahap produksi yang kedua yaitu proses pencampuran antara gula pasir dengan premix untuk mendapatkan produk minuman teh serbuk instan. Proses tersebut dimulai dengan transfer gula pasir dari silo menuju weighing hopper melalui buffer hopper. Jumlah gula yang ditimbang dalam weighing hopper sesuai dengan formulasi yang digunakan. Gula dari weighing hopper kemudian ditransfer ke ribbon mixer. Premix lalu dimasukkan ke dalam mixer lalu mixer dijalankan dengan kecepatan 44.8 rpm selama 10 menit.
Proses pengeluaran produk dari mixer dilakukan melalui lubang di bagian bawah mixer kemudian ditampung sementara di dalam wadah. Metode penurunan serbuk ini dapat menyebabkan terjadi segregasi partikel dan akan merusak profil homogenitas produk setelah dari mixer. Hal ini disebabkan partikel serbuk yang berukuran lebih kecil akan cenderung berada di tengah tumpukan sedangkan partikel dengan ukuran yang lebih besar akan berada di pinggir tumpukan.
Setelah itu, produk dimasukkan ke dalam mesin pengemas untuk selanjutnya dikemas dalam kemasan aluminium foil 1 kg. Bahan pengemas terlebih dahulu melewati alat printing code untuk mencetak kode produksi dan tanggal kadaluarsa. Setelah produk dikemas, produk lalu melewati conveyor ke area pengemasan sekunder dengan karton boks.
Saat produk berada di mesin filling, produk akan diisikan ke dalam kemasan berdasarkan prinsip volumetrik. Prinsip pengisian secara volumetrik mensyaratkan produk harus memiliki densitas dalam kisaran 930-997 g/L supaya tercapai berat bersih minimal 1000 g per kemasan. Pada tahap ini juga teridentifikasi masalah yang berhubungan dengan homogenitas dimana terjadi aliran funnel low atau core flow. Core flow ini menyebabkan produk dengan ukuran partikel lebih kecil (termasuk vitamin C) berada di bagian tengah hopper dan akan turun lebih dahulu sehingga kemasan produk pada awal proses akan memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemasan pada akhir proses.

2.    Produk yang dihasilkan
Minuman teh serbuk instan adalah salah satu produk yang diproduksi oleh PT. NestlĂŠ Indonesia Pabrik Cikupa. Produk ini diproduksi melalui teknik pencampuran kering, yaitu proses pencampuran dua material padat atau lebih untuk menghasilkan suatu campuran padat yang homogen. Sebelum dikonsumsi, produk minuman teh serbuk ini memerlukan rekonstitusi terlebih dahulu dengan air dingin.
Produk ini termasuk kategori NestlĂŠ Professional dimana penjualan hanya dilakukan secara retail ke restoran atau food court. Target konsumen dari minuman ini adalah pelajar, mahasiswa, dan keluarga. Produk ini dik Minuman ini memiliki klaim larut dalam air dingin dan ’Kaya Akan Vitamin C’ dengan kandungan vitamin C mencapai 65% AKG untuk setiap takaran saji (25 gram). Berdasarkan klaim tersebut, setiap kemasan minuman harus mengandung vitamin C minimal 240 mg/100 g. Kandungan vitamin C tersebut menjadi salah satu release parameter produk sebelum didistribusikan ke konsumen. Namun, kandungan vitamin C untuk release parameter produk adalah 257 mg/100g dimana selisih 10% merupakan faktor kehilangan vitamin C selama masa simpan (1 tahun). Release parameter lain yaitu kadar air (maksimal 0.3%), pH (3.00- 3.40), keasaman (1.62-2.24%), dan uji mikrobiologi yang meliputi uji koliform ( emas dalam kemasan aluminium foil dengan berat bersih 1000 gram.

3.    Limbah yang dihasilkan
Di dalam setiap proses produksi teh serbuk menghasilkan limbah yang terdiri dari limbah padat, limbah cair dan emisi. Limbah teh serbuk secara garis besar dibedakan menjadi tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas.
a.    Limbah Gas
Limbah gas merupakan limbah yang dihasilkan dari hasil pembakaran atau pengeringanyang menghasilkan  gas–gas tertentu. Limbah gas juga dapat berupa asap, asap dihasilkan dari heat  exchanger baik untuk pelayuan maupun pengeringan langsung dibuang ke udara sekitar melalui cerobong asap. Dalam industri pengolahan teh serbuk limbah gas dihasilkan dari proses pemanasan saat penyeduhan teh serbuk untuk produksi teh dalam kemasan siap minum. Limbah gas pada industri olahan minuman teh serbuk berupa gas yangdihasilkan saat pemanasan saat proses sterilisasi botol dan perebusan teh serbuk untuk minuman teh serbuk dalam kemasan.
b.    Limbah Padat
Limbah padat dari industri teh serbuk berasal dari ampas teh serbuk yang merupakan sisa dari tiaptahapan proses produksi. Fluff merupakan hasil sortasi dari pembuatan teh hitam yang terdiri atas bahan padatan (serat) yang jumlahnya cukup besar, sekitar 1-3% dari produksi teh yang dihasilkan. Limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik teh serbuk jumlahnya besar sekitar 400 kg/hari sehingga dalam sebulan diperoleh 12 ton.
c.    Limbah Cair
Limbah cair industri teh serbuk berasal dari penggunaan air dalam sistem prosesnya. Limbah cair berasal dari sisa-sisa pencucian alat-alat yang digunakan selama proses pencucian yang biasanya menggunakan soda api. Sedangkan pada industri minuman teh botol, Limbah cair industri minuman teh adalah air bekas dari pencucian botol-botol maupun lantai dan juga ceceran dari minuman yang tumpah pada saat proses pengolahan the serbuk.

4.    Solusi untuk Pengolahan Limbah Teh Serbuk
a.    Limbah Gas
Asap dari  heat exchanger  baik untuk pelayuan maupun pengeringan langsung dibuang ke udara sekitar melalui cerobong asap. Tinggi cerobong pengeluaran asap hasil pembakaran di ruang pengeringan lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi bangunan pabrik tempat proses  pengolahan berlangsung. Ini dimaksudkan agar asap/gas hasil pembakaran tersebut tidak masuk ke ruang pengolahan sehingga tidak mengganggu jalannya proses pengolahan. Penanaman pohon disekitar pabrik juga akan mengurangilimbah gas yang ada di udara.
b.    Limbah Padat
1)      Sebagai Pupuk Organik
Limbah padat industri teh serbuk ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluanantara lain menjadi pupuk organik. Ampas teh yang akan dijadikan pupuk tanaman, diproses melalui pengolahan secara termofil. Caranya, ampas teh dari sisa penyeduhan diletakkan pada bak atau tempat khusus yang telah disediakan, kemudian  dan didinginkan selama satu hari. Mikroorganisme ditambahkan untuk mempercepat proses penguraiandan   dilanjutkan dengan proses pembalikan dalam seminggu sekali. Kompos siap digunakan setelah proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Kompos fluff seperti pupuk organik pada umumnya mengandung unsur hara baik makro maupun mikro. Kandungan hara yang terdapat dalam limbah padat adalah C-organik 5,23%, N-total 0,11%, P-tersedia 125 ppm, bahan organik 8,99% dan K-dd 13,85 ppm dan Mg 1,19 ppm.
2)      Sebagai Bahan Alternatif Adsorben
Ampas teh juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif adsorben pada limbah cair industri tekstil. Adsorpsi merupakan peristiwa penjerapan suatu zat pada permukaan  zat lain yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan gaya tarik pada permukaan zat tersebut. Adsorben adalah zat yang menjerap dan zat yang terjerap disebut adsorbat.  Beberapa kegunaan adsorben diantaranya adalah untuk memurnikan udara dan gas,  memurnikan pelarut, penghilangan bau dalam pemurnian minyak nabati dan gula,  penghilangan warna produk-produk alam, serta untuk penjerap zat warna dalam pengolahan limbah industri tekstil. Selain itu limbah cair industri tekstil juga mengandung biru metilen dimana dalam dosis tinggi dapat menyebabkan   mual,   muntah,   nyeri pada mulut dan dada, sakit kepala, keringat berlebihan, dan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan ampas teh dapat digunakan sebagai adsorben larutan amaran dan biru metilen untuk mengganti karbon aktif yang cenderung memakan biaya lebih besar.
3)      Pakan Ternak
Peternak dapat memanfaatkan limbah teh serbuk sebagai campuran pakan ternak dalam   rangka untuk mengurangi produksi gas metan, khususnya pada ternak golongan ruminansia. Gas metana dihasilkan dari rumen sebesar 80–95 % dan 5–20 % dihasilkan dari usus besar. Gas ini dikeluarkan melalui mulut ke atmosfir. Kandungan protein  ampas teh yang cukup tinggi membuat ampas teh dapat digunakan sebagai campuran untuk pakan ternak. Limbah teh serbuk tersebut dapat digunakan sebagai campuran dari pakan sapi yakni rumput raja dan dedak halus. Disamping dapat meningkatkan produktivitas   ternak, pakan sapi tersebut juga mampu menciptakan peternakan ramah lingkungan.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa limbah teh serbuk dapat menurunkanproduksi gas metan hasil fermentasi ternak sapi perah atau sapi potong. Limbah tehtersebut digunakan sebagai bahan campuran makanan ternak. Senyawa tanin di dalam ampas teh hitam mampu menghambat metabolisme dan menurunkan jumlah protozoa diikuti penurunan  produksi gas metan namun tidak berpengaruh pada kadar  proteinmikrobia, sehingga dapat meningkatkan produktivitas peternakan.
4)      Sebagai Bahan dalam Pembuatan Papan Partikel
Papan partikel merupakan salah satu jenis produk komposit yang terbuat daripartikel-partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya yang diikat dengan perekatresin sintetis dan dipres pada keadaan panas menjadi lembaran-lembaran keras dengan ketebalan tertentu. Kandungan senyawa lignoselulosa dalam bahan baku papan partikel sangat berpengaruh terhadap mutu papan partikel yang dihasilkan, terutama terhadap sifat mekanik keteguhan lentur dan keteguhan patah papan. Umumnya kayu yang digunakan untuk papan partikel harus memiliki kandungan lignoselulosa sebanyak ±71%.
Beberapa hasil penelitian mendapatkan bahwa produk papan partikel berbahan baku ampas daun teh mempunyai mutu yang tidak kalah dengan papan partikel berbahan baku kayu. Disamping itu beberapa penelitian membuktikan bahwa ampas daun teh dapat berkombinasi dan bersinergi dengan baik dengan bahan partikel kayu lain saat ampas teh dimanfaatkan sebagai bahan subtitusi pembuatan partikel. Papan partikel berbahan baku ampas daun teh ini mempunyai sifat fisik dan mekanik yang memenuhi persyaratan standar papan partikel SNI yaitu kerapatan, kadar air, MOE (modulus of elasticity), pengembangan tebal dan internal bond.
c.    Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan berupa soda api sisa pembersihan alat-alat yang digunakan selama pengolahan seperti baki. Soda api sisa pembersihan tersebut tidaklah dialirkan ke dalam sungai, tetapi dialirkan ke dalam bak berbentuk kotak ditanam didalam tanah dengan dasar tidak disemen, sehingga soda api tersebut terserap ke dalam tanah. Dengan demikian secara tidak langsung terjadi pencemaran terhadap sungai.


Sumber:




Sabtu, 30 April 2016

Pengetahuan Lingkungan Part 2

Proses Daur Ulang Plastik Pada PT Elastis Reka Aktif

Sampah yang paling berbahaya adalah sampah anorganik, dimana sampah ini tidak dapat atau sulit untuk diurai. Salah satu sampah anorganik yang menjadi masalah adalah sampah plastik. Sampah plastik adalah salah satu jenis sampah yang digplongkan berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya. Sampah plastik merupakan jenis sampah anorganik yang umumnya tidak dapat membusuk atau tidak bisa terurai oleh bakteri. Sampah plastik merupakan masalah yang sudah dianggap serius bagi pencemaran lingkungan, khususnya terhadap pencemaran tanah. Penggunaan plastik memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, penggunaan plastik dilakukan hampir pada seluruh kegiatan masyarakat, namun penggunaan yang tidak terkontrol nantinya akan menimbulkan dampak negatif bagi pencemaran lingkungan. Berikut salah satu perusahaan yang menerapkan proses daur ulang sampah plastik untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
PT Elastis Reka Aktif merupakan perusahaan produksi kantong plastik, yang terletak di Jalan Kapuk Raya No. 88 E, F, G Penjaringan,  Jakarta Utara-DKI Jakarta. Perusahaan ini memulai hidupnya dengan nama PD Era Plastik, yang didirikan pada tahun 1988. Awalnya, PD Era Plastik hanya bergerak di bidang jual beli dan pengolahan limbah plastik. Seiring dengan kemajuannya, dan untuk menunjang pengembangan lebih lanjut, maka pada tahun 2004 PD Era Plastik dibentuk menjadi PT Elastis Reka Aktif. Namun hingga masih terkadang masih lebih dikenal dengan sebutan “ERA Plastik”
PT Elastis Reka Aktif bergerak dari bidang perdagangan limbah plastik, PT Elastis Reka Aktif kemudian mengembangkan lini bisnisnya menjadi pendauran ulang limbah plastik. Aktivitas pendauran ulang limbah plastik kemudian menjadi identitas serta sumber inspirasi dari perusahaan ini. Berselang tidak lama, PT Elastis Reka Aktif kemudian memulai produksi kantong plastik dengan merek LOCO, yang sekarang telah menjelma menjadi sebuah merek yang dikenal baik di pasaran atas kualitasnya
Merek kantong plastik yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 tersebut diproduksi dengan berbahan utama bahan hasil daur ulang limbah plastik yang diolah perusahaan. Peningkatan nilai tambah pada barang jadi tersebut PT Elastis Reka Aktif didasari atas pengertian akan filosofi daur ulang, yakni pengembalian limbah ke tingkat yang tertinggi mungkin pada tangga hirarki siklus hidup produk.
Sampah plastik adalah bahan buangan yang terbuat dari plastik yang sudah tidak terpakai dan tidak bermanfaat lagi bagi kehidupan manusia. Sampah plastik dapat menjadi berguna kembali setelah sampah plastik tersebut didaur ulang. Daur ulang plastik adalah melakukan proses dasar daur ulang untuk mengolah sampah plastik menjadi pellet atau bijih plastik yang merupakan bahan dasar pembentuk plastik menurut produk yang diinginkan. Pada proses ini, jenis bahan baku yang digunakan menentukan jenis bijih plastik yang dihasilkan. Tahapan proses daur ulang sampah plastik sebagai berikut:
1.        Bagian proses sortir bahan baku yang  menggunakan tenaga manusia dan bagian proses yang menggunakan mesin. Bagian ini merupakan proses pemisahan yang pertama kali dilakukan. Pada proses ini dilakukan  pekerjaan untuk memisahkan bahan baku yang datang dan membuang material/ benda asing yang tidak diharapakan masuk ke dalam proses.
2.        Pemotongan
Proses ini dilakukan untuk mengurangi ukuran material dan mempermudah  proses selanjutnya, dengan cara memotong atau merajang plastik dalam bentuk asalnya (kantong atau lembaran plastik).
3.        Pencucian
Pencucian bertujuan untuk tidak menggangu proses penggilingan. Pencucian terdiri dari 2 tahap, yaitu:
a.    Prewashing, untuk memisahkan material-material asing terutama agar tidak ikut dalam proses selanjutnya. Menggunakan media cair sebagai sarana untuk  mencuci material dan membawa material asing keluar dari proses.
b. Pencucian tahap 2, menggunakan mesin friction water.Materi dicuci kembali oleh ulir menanjak yang berputar pada putaran tinggi sehinggga hasil dari friksi dapat melepaskan material asing yang masih terdapat pada bahan. Masih menggunakan media air untuk membawa material asing keluar dari proses.
4.        Pengeringan
Secara mekanik yaitu dengan memeras material dengan gerakan memutar sehingga air dapat keluar. Cara lainnya menguapkan air pada suhu tertentu agar bahan benar-benar terbebas dari suhu yang melekat.
5.        Pemanasan
Material yang telah bersih dari pengotor dilelehkan dengan proses pemanasan material pada suhu 200oC. Suhu panas dihasilkan oleh heater. Selanjutnya lelehan dialirkan untuk menuju proses penyaringan.
6.        Penyaringan
Penyaringan dilakukan dengan lembaran besi yang dilobangi sebesar kira-kira 4 mm di seluruh permukaannya. Harapannya agar lelehan plastik akan melewati saringan ini untuk menghasilkan lelehan plastik berbentuk silinder panjang yang nantinya akn dipotong-potong.
7.        Pendinginan
Setelan berbentuk silinder, material dilewatkan pada air dingin sebagai media pendingin.
8.        Pencetakan/Penggilingan
Pencetakan bijih plastik dilakukan dengan membentuk lelehan plastik menjadi berbentuk mie dengan diameter 4 mm.
9.        Pembungkusan
Pembungkusan diilakukan terhadap material kering dalam karung plastik. Selama pembungkusan dilakukan juga pemeriksaan untuk mengetahui apakah proses produksi berjalan baik.
10. Tahap ini merupakan tahap pembuatan kantong plastik menggunakan metode ekstruksi. Pellet (bijih besi) dimasukkan lewat corong, kemudian didorong ke screw baja dan dialirkan di sepanjang bejana barrel untuk dipanaskan. Pada ujung ekstruder, lelehan melalui die untuk menghasilkan ekstrudat dengan bentuk sesuai keinginan.

11.    Persiapan Bahan
      Tahap ini dilakukan dengan pengujian MFI (Melt Flow Index) untuk menguji viskositas material. Semakin tinggi berat molekul material maka semakin rendah nilai MFInya. Bahan dengan nilai MFI kecil akan membutuhkan suhu yang lebih besar untuk kemudahan alirannya. Jika bahan baku yang digunakan adalah pellet atau bijih plastik hasil daur ulang maka pengujian MFI tidak diperlukan. Material yang digunakan tidak murni dan tidak diketahui komposisi yang sebenarnya. Menghasilkan produk yang baik, langkah yang dilakukan adalah trial and error dan pengontrolan yang intens.
12.    Pencampuran
Bijih plastik yang sudah dipersiapkan dicampurkan dengan zat aditif yaitu pigmen sebagai pewarna kantong plastik nantinya. Pencampuran dilakukan dengan mixer dalam tabung mixer.
13.    Pengeringan Pellet
Proses pengeringan dilakukan terhadap campuran homogen pellet dan pigmen menggunakan oven dryer. Material dimasukkan ke dalam oven, selanjutnya oven dryer ditutup dan diset pada temperatur sesuai kebutuhan dan sesuai material yang sedang dikeringkan.

14.    Pencampuran Kering dan Pencampuran Panas
a.       Pencampuran Kering (Dry Blending)
Pencampuran antara material bijih plastik dengan aditif yang digunakan menjadi homogen tanpa menggunakan panas dan kontak hanya terjadi pada permukaan saja.
b.      Pencampuran Panas (Hot Blending)
Proses pencampuran antara material bijih plastik dengan aditif agar menjadi homogen menggunakan panas untuk memperoleh dispersi panas yang lebih baik. Beberapa alat yang menggunakan prinsip ini adalah extruder, banbury mixer, dan granulator.
15.    Tahap Akhir Pembuatan Kantong Plastik
Campuran plastik yang sudah melalui proses ekstrusi dengan menggunakan ekstruder yang dilengkapai dengan die akan membentuk lembaran plastik berbentuk tabung. Pembuatan lembaran plastik ini menggunakan air cooling ring (pendingin). Lembaran–lembaran ini kemudian digulung baru dimasukkan dalam mesin cetak untuk membentuk kantong plastik. Hasil dari tahap ini merupakan produk dari PT Elastis Reka Aktif yaitu kantong plastik dengan merek LOCO.


Proses Daur Ulang Kertas Pada PT. Pindo Deli Pulp and Paper Mills

Sampah kertas ialah Sampah anorganik yang bersifat kering. Sampah kertas merupakan sampah yang bisa dijadikan sampah komersial jika dilakukan penanganan. Sampah kertas dapat dijadikan hiasan menarik, kertas daur ulang, dll. Sampah kertas mengandung komponen kimiawi selulosa, hemiselulosa, dan sebagian kecil masih mengandung lignin. Berikut salah satu perusahaan yang menerapkan proses daur ulang kertas.
PT. Pindo Deli Pulp and Paper Mills adalah sebuah industri kertas swasta nasional besar yang berlokasi di Desa Kuta Mekar Btb. 69 CiampelKarawang, JawaBarat, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1976 dan saat ini memiliki 7.672 karyawan yang bekerja 3 shift dengan jam kerja 8 jam per shift. PT. Pindo Deli memproduksi kertas fotokopi, kertas khusus dan kertas tisu dengan kapasitas produksi 1.465.000 ton per tahun, termasuk produksi dari PM8 dan PM9 sebanyak 240.000 ton per tahun yang mulai berproduksi tahun 1997 dan PM11 sebanyak 400.000 ton per tahun yang mulai berproduksi tahun 1998.  
Industri pulp dan kertas mengubah bahan baku serat menjadi pulp, kertas dan kardus. Urutan proses pembuatannya adalah persiapan bahan baku, pembuatan pulp (secara kimia, semikimia, mekanik atau limbah kertas), pemutihan, pengambilan kembali bahan kimia, pengeringan pulp dan pembuatan kertas. Skema diagram prosesnya terlihat pada dibawah ini. Proses yang membutuhkan energi paling tinggi adalah proses pembuatan pulp dan proses pengeringan kertas.

Tahapan utama dan proses daur ulang sederhana dalam pembuatan pulp dan kertas adalah sebagai berikut:
1.    Pembuatan pulp pada Pulper
Pulp dicampur dalam tanki pencampur dengan air menjadi slurry. Slurry kemudian dibersihkan lebih lanjut dan dikirimkan ke mesin kertas. Bahan baku dimasukkan kedalam PULPER untuk defiberization dan mempercepat beating serta  fibrillation dikarenakan pemekaran serat.
2.    Cleaner
Proses pemutihan untuk tipe pulp Kraft dilakukan dalam beberapa menara dimana pulp dicampur dengan berbagai bahan kimia, kemudian bahan kimia diambil kembali dan pulp dicuci.
3.    Pemurnian
Pulp dilewatkan plat yang berputar pada alat pemurnian bentuk disk. Pada proses mekanis ini terjadi penguraian serat pada dinding selnya, sehingga serat menjadi lebih lentur. Tingkat pemurnian pada proses ini mempengaruhi kualitas kertas yang dihasilkan.  
4.    Pembentukan
Proses dilanjutkan dengan proses sizing dan pewarnaan untuk menghasilkan spesifikasi kertas yang diinginkan. Sizing dilakukan untuk meningkatkan kehalusan permukaan kertas; pada saat pewarnaan ditambahkan pigmen, pewarna dan bahan pengisi. Proses dilanjutkan dengan pembentukan lembaran kertas yang dimulai pada headbox, dimana serat basah ditebarkan pada saringan berjalan.
5.    Pengepresan
Lembaran kertas kering dihasilkan dengan cara mengepres lembaran diantara silinder pada calendar stack.
6.    Pengeringan
Sebagian besar air yang terkandung didalam lembaran kertas dikeringkan dengan melewatkan lembaran pada silinder yang berpemanas uap air.
7.    Calender Stack
Tahap akhir dari proses pembuatan kertas dilakukan pada calendar stack, yang terdiri dari beberapa pasangan silinder dengan jarak tertentu untuk mengontol ketebalan dan kehalusan hasil akhir kertas.
8.    Pope Reel
Bagian ini merupakan tahap akhir dari proses pembuatan kertas yaitu pemotongan kertas dari gulungannya. Pada bagian ini, kertas yang digulung dalam gulungan besar, dibelah pada ketebalan yang diinginkan, dipotong menjadi lembaran, dirapikan kemudian dikemas.                                                         


Sumber: